Exhibition

Commission Works

Wedhar Riyadi

Wedhar Riyadi - salah satu bintang dalam skena seni rupa kontemporer Indonesia. Lahir pada tahun 1980 di Yogyakarta, ia menamatkan pendidikannya pada Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Wedhar pernah terlibat dalam aktivitas bersama komunitas komik Daging Tumbuh dan Apotik Komik Yogyakarta. Wedhar aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran, baik dalam & luar negeri, proyek, dan residensi. Kali ini, Wedhar dipercaya sebagai commissioned artist ART|JOG|10.

Praktik Wedhar sangat luas, mencakup; gambar, mural, komik, stiker, poster, ilustrasi, pakaian, dan mainan, disamping lukisan minyak/akrilik dengan skala besar. Melalui praktik artistik yang dilakukannya, ia berupaya mewakili generasi seniman Indonesia yang karya-karyanya menentang batas-batas tradisional dalam seni rupa dan budaya populer.

Lompatan artistik dilakukan oleh Wedhar dalam beberapa tahun terakhir. Ia menggeluti isu seputar dampak dari kekerasan dan konflik serta persoalan domestifikasi. Secara garis besar, Wedhar tengah membicarakan aspek kemanusiaan.


Floating Eyes

Gambaran tentang kemajuan teknologi dan jejaring sosial memiliki pengaruh dalam setiap perubahan, termasuk memunculkan masyarakat yang terbuka dan memiliki kebebasan dalam berpartisipasi di ruang publik. Di samping itu, kita selalu merasa diawasi atau diintai ‘media tertentu’ ke manapun kita bergerak. Hal ini dimungkinkan karena berbagai aplikasi (instagram, facebook, tweeter, line, dll) yang dilengkapi dengan koneksi internet. Aplikasi yang mengaktifkan global positioning system (GPS) bahkan dapat mudah menginformasikan keberadaan kita secara akurat, juga sebaliknya kita juga bisa melihat aktivitas orang lain hanya melalui layar ponsel/gadget kita.

Ide pembuatan karya ini adalah membuat halaman Jogja National Museum/ART|JOG menjadi ruang publik seperti taman atau playground yang bisa diakses oleh pengunjung. Area ini memungkinkan orang untuk bertemu dan menikmati ruang landscape, bermain, berimajinasi, bersantai, melakukan performance atau sekadar duduk-duduk ngobrol dan yang lebih penting untuk mempertahankan interaksi sosial.

Bentuk ruang tersebut berupa taman/kolam lengkap dengan beberapa karya patung di sekitarnya. Air di permukaan kolam bahkan dibuat bergelombang dan berpercik, yang digerakkan dengan efek suara. Air refleksi kolam serta gerakan permukaan air tersebut memungkinkan pengunjung untuk melihat pantulan lingkungan sekitar serta melihat dan dilihat dirinya sendiri. Gambaran bentuk patung berupa banyak mata yang bertumpuk dan terbang yang seakan-akan tengah mengawasi.

Young Artist Award

Sejak tahun 2013, Young Artist Award hadir dan menjadi salah satu program utama ART|JOG. Kompetisi ini mensyaratkan seniman muda partisipan ART|JOG yang berusia di bawah 33 tahun sebagai pesertanya.

Tahun ini ART|JOG|10 mengedepankan tema "Changing Perspective". Tentunya istilah ini bias dimaknai lebih dalam, tidak sekadar "pandah kamar", berpindah dari kamar lama ke kamar yang baru, tapi sebagai "perubahan paradigma". Paradigma adalah kesepakatan pandangan yang kemudian dianut secara bersama- sama oleh lingkungan atau kalangan tertentu. Mengubah paradigm adalah membuat lompatan cara berpikir.

Dengan menggunakan perspektif transformatif ala paradigma, Juri telah menilai karya-karya para seniman yang mengirimkan karyanya pada Young Artist Award ART|JOG|10. Jika kekhasan medium terlampaui oleh pluralism praktik seni dan keunikan budaya, "pseudo-pluralisme" atau keragaman yang dibuat-buat akan sendirinya terlampaui pula oleh kewarasan pencarian para seniman yang tidak sekadar ingin "berpindah kamar". Dengan kata lain, mereka secara sadar berupaya menggapai perspektif baru.

Dua karya seniman diunggulkan dan dimenangkan sebagai karya-karya terbaik dalam kompetisi ini oleh para juri.

1. Random and Constant (Oblique), 2017, Bagus Pandega.

2. Tubifex Landscape, 2017, Syaiful Aulia Garibaldi.

Special Project

Sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa RJ. Katamsi di bidang seni dan pendidikan, ART|JOG bekerja sama dengan pematung Wahyu Santoso membuat patung RJ. Katamsi dan dipasang kembali di tempat semula, di halaman depan Jogja National Museum. Patung RJ Katamsi sudah pernah dibuat pada tahun 1970 dalam rangka peringatan Dies Natalis STSRI "ASRI" dengan bahan semen cor oleh Bapak Sarpomo dan tim atas supervisi dari dosen-dosen STSRI "ASRI" pada saat itu. Patung RJ. Katamsi sekarang ini terbuat dari material perunggu dengan tinggi 2,5 meter atau 1,5 kali ukuran patung sebelumnya.

RJ Katamsi lahir di Karangkobar, Banyumas pada tanggal 7 Januari 1897, meninggal di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1975 jam 23.30 WIB. Dimakamkan di TPU Sasanalaya, Jl. Ireda, Yogyakarta.